Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014

Marsinah oleh Marjinal

Kulihat
Buruh perempuan
Berkeringat
Membasahi bumi
Yang gelap
Energi yang kau curahkan
Begitu besar tlah kurasakan
Terhanyut dalam kesombongan terlupakan
Gemerlap cahayamu
Membentangi garis kehidupan
Ada lara rintih caci maki
Kau hadapi
Keringat dan ketegaranmu
Mengalir deras tak ternilai
Hanya tetes darah dan air mata
Yang kau curah
Ooo Marsinah
Kau termarjinalkan
Ooo Marsinah
Matimu tak sia sia
Sumber: http://sejarahbangsaindonesia.wordpress.com/

SUDAH WAKTUNYA

Pagi masih menyisakan tetesan gerimis semalam. Embun-embun dijendela kaca masih setia saling beradu. Dingin masih terasa hingga ke ulu hati. Ah, malas sekali rasanya beranjak dan menyibak selimutku. Kulihat jam weker disamping meja tempat tidurku. Mati. Tidak ada angka yang menunjukkan waktu. Baterainya habis. Itu adalah alasan yang paling masuk akal. Tapi aku punya alasan sendiri kenapa jam weker itu mati.
*

Aku buka kotak kecil pemberian dia. Aku terkejut melihat isi dibalik kotak itu. Sebuah jam weker berbentuk kotak berwarna putih dengan motif hello kitty yang cantik. Animasi kesukaanku.
"Kamu suka?"
"Sangat suka, terimakasih" aku tersenyum manja dan memelukmu.
"Aku ingin setiap saat kamu bisa mengingatku. Lihat, lampunya warna warni kan. Dia bisa menemanimu saat tidur" kau tersenyum, menggemaskan.
Aku memperhatikanmu menjelaskan tentang hadiahmu itu. Tentang nyala lampunya yang unik, tentang motifnya yang lucu, dan tentang alasanmu memberiku hadiah itu. Malam itu adalah malam terindah semenjak kau ungkapkan kata cinta dan kita resmi menjadi sepasang kekasih.
*
Sudah Waktunya - Cerpen Sedih
"Kita putus"
"Ya, aku mengerti." Kumatikan handphoneku dan menutup pembicaraan kita. Aku tertegun. Entah apa yang saat itu aku rasakan. Ingin sekali rasanya aku menangis dan berteriak. Tapi tenggorokanku kelu. Mataku kering. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kita bicarakan. Mudah sekali mengakhiri cerita ini. Bukankah dulu kita selalu berjuang untuk membuat akhir yang indah untuk cerita kita? Lantas kenapa kau kibarkan bendera putih pertanda kau menyerah? Kenapa dan kenapa. Begitu banyak tanya kenapa yang berkecamuk dalam hati dan pikiranku. Ah, aku lelah memikirkan hal itu. Yang kutahu semenjak ucapan itu keluar dari bibirmu hari-hariku menjadi kelabu. Aku hampa. Aku merasakan kekosongan yang sangat menyiksa batinku.

Waktu terus berjalan. Tanpa terasa satu tahun sudah sejak kau pergi dari hidupku. Aku bersandar di tempat tidurku. Memandang hadiah pertama yang kau beri untukku. Dan aku mengingatmu. Bukankah itu yang kau harapkan dari hadiahmu? Dia masih menunjukkan waktu dengan jelas. Kunyalakan tombol lampu yang ada dibawah jam itu. Menyala, tapi tak seterang dulu. Aku merewind memoriku saat bersamamu. Sebuah kebahagiaan nyata yang baru pernah kurasakan. Aku menyadari aku merindukanmu. Teramat sangat rindu. Hingga bendungan yang sedari tadi kubendung pun jebol. Aku menangis, mengingatmu. Mengingat semua kenangan indah yang masih jelas kurasakan. Seperti baru kemarin saja kualami.

Tok, tok tok. Kudengar ketokan halus dibalik pintu kamarku. Segera kuseka airmata itu.
"Ryan datang" suara ibuku setelah kubuka pintu dan mempersilahkan masuk.
Untuk apa dia datang? Aku bergeming dibalik pintu kamarku. Berbagai pertanyaan datang silih berganti dalam pikiranku. Aku bergegas ke kamar mandi membasuh mukaku dan sedikit berdandan sebelum akhirnya aku menemuinya. Aku begitu gugup. Aku berusaha menutupi kegugupanku dan bersikap sebiasa mungkin untuk menemuinya.
"Hai, apa kabar Artari?" kau beranjak dari tempat dudukmu, tersenyum lucu dan menyalami tanganku. Ah, senyummu masih sama seperti dulu.

Tak ada yang berubah darimu. Hanya saja badanmu lebih atletis. Mungkin sekarang kamu lebi rajin diet dan olahraga teratur.
"Baik." jawabku singkat.
"Dasar, kau masih saja jutek seperti dulu." Lagi, kau tersenyum dan mengusap lembut kepalaku.

Aku tersenyum tipis. Sebuah senyum basa-basi yang sebenarnya kupakasakan. Kau bertanya banyak hal kepadaku. Tentang pekerjaanku, hari-hariku, dan tentang siapa pasanganku sekarang.
"Aku masih sendiri" jawabku yang membuat kau mendongakkan kepala dari tundukkanmu.

Aku memalingkan wajahku ke awang-awang. Aku tak ingin mata kita beradu meski kau memaksaku menatapmu saat kita bicara.
"Selamat ya" Aku tersenyum saat kau memberiku selembar kertas berwarna biru bertuliskan namamu, dan nama seorang perempuan. Lagi, senyum yang kupaksakan.
"Jadi juga kau menikah dengannya"
"Mungkin memang ini takdir kita. Aku berharap kau tidak membenciku. Kita masih bisa jadi sahabat. Mungkin kita juga bisa jadi saudara. Aku minta maaf Tari jika ceritanya berakhir seperti ini. Teruslah tersenyum karna aku ingin melihatmu bahagia. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kita, dan untukmu." kau meraihku dan berusaha memelukku.

Aku menjauhkan tubuhmu dan melepaskan pelukan itu.
"Aku bahagia. Dan aku selalu bahagia. Semoga kaupun bahagia dengan Diar. Aku akan datang ke pernikahanmu. Sampaikan salamku untuk Diar. Kalian memang digariskan untuk berjodoh. Sekuat apapun aku mempertahankan benteng itu, tetap saja Diar tak pernah rela aku merobohkannya. Maaf aku sibuk. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."
"Ya, aku pamit. Sampaikan salamku untuk Ibu."

Aku beranjak masuk ke dalam rumah. Kulepas kepergianmu dari balik tirai jendela. Kau masih mematung. Kulihat kau menghempaskan nafas panjang dan berlalu pergi.
"Ibu kira kau akan berjodoh dengan Ryan. Memang jodoh itu rahasia Tuhan ya" Ibu tersenyum, akupun tersenyum. Malam itu dua orang perempuan tersenyum dengan artinya masing-masing.
Aku bergegas ke kamarku dan tanpa kusadari aku menangis. Apa yang kutangisi? Pernikahan Ryan dengan Diar besok, atau karna aku merasa lemah? Ah, entahlah. Aku hanya ingin menangis. Kulihat jam weker hadiah darinya. Mati. Tak ada waktu yang ditunjukkan. Dan tak ada nyalanya yang menerangi tidurku. Aku terlelap bersamaan dengan turunnya air dari langit gelap.
*

Aku memicingkan mata saat Ibu menyibak tirai jendela kamarku. Sejak kapan dia masuk ke kamarku? Aku tersadar. Sedari tadi aku me rewind ingatanku setahun yang lalu. Aku singkap selimut yang sedari tadi membalut tubuhku. Beranjak dari tempat tidurku dan tersenyum. Aku akan datang kepernikahanmu dan tersenyum bahagia untukmu. Meskipun itu senyum yang kupaksakan untuk kesekian kalinya. Karena ini adalah waktunya. Ya, sudah waktunya kau bahagia dengan hidupmu yang baru. Dan sudah waktunya aku bahagia dengan hidupku yang meski tanpamu.
SUMBER:http://www.lokerseni.web.id/2014/03/sudah-waktunya-cerpen-sedih.html
 Karya Dwi Suci Lestari

Cerita Rakyat Danau Toba

Di wilayah Sumatera hiduplah seorang petani yang sangat rajin bekerja. Ia hidup sendiri sebatang kara. Setiap hari ia bekerja menggarap lading dan mencari ikan dengan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. Dengan hanya berbekal sebuah kail, umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, petani tersebut berdoa,“Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini”. Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali.
Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat terkejut. Ternyata ikan yang ditangkapnya itu bisa berbicara. “Tolong aku jangan dimakan Pak!! Biarkan aku hidup”, teriak ikan itu. Tanpa banyak Tanya, ikan tangkapannya itu langsung dikembalikan ke dalam air lagi. Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.
“Jangan takut Pak, aku tidak akan menyakiti kamu”, kata si ikan. “Siapakah kamu ini? Bukankah kamu seekor ikan?, Tanya petani itu. “Aku adalah seorang putri yang dikutuk, karena melanggar aturan kerajaan”, jawab wanita itu. “Terimakasih engkau sudah membebaskan aku dari kutukan itu, dan sebagai imbalannya aku bersedia kau jadikan istri”, kata wanita itu. Petani itupun setuju. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.
Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya  kebahagiaan Petani dan istrinya bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat, tetapi ada kebiasaan yang membuat heran semua orang. Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.
Hingga suatu hari anak petani tersebut mendapat tugas dari ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi tugasnya tidak dipenuhinya. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya dilahap habis, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubug. Pak tani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, pak tani melihat anaknya sedang tidur di gubug. Petani tersebut langsung membangunkannya. “Hey, bangun!, teriak petani itu.
Setelah anaknya terbangun, petani itu langsung menanyakan makanannya. “Mana makanan buat ayah?”, Tanya petani. “Sudah habis kumakan”, jawab si anak. Dengan nada tinggi petani itu langsung memarahi anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!," umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan dari istrinya.
Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. 
Sumber:http://www.lokerseni.web.id/2012/01/cerita-rakyat-danau-toba.html